Memijak bumi menata arti
Riuh tapi tak gaduh
Sedikit membakar
Tapi tak cukup menghanguskan
Harmonisasi yg msh rapuh
Studi komparasi yg blm utuh
Menemaniku di pagi yg penuh peluh
Jadi…
Utuhkan pagi supermu
(Dukun, Gresik, 12 Desember 2011)
Memijak bumi menata arti
Riuh tapi tak gaduh
Sedikit membakar
Tapi tak cukup menghanguskan
Harmonisasi yg msh rapuh
Studi komparasi yg blm utuh
Menemaniku di pagi yg penuh peluh
Jadi…
Utuhkan pagi supermu
(Dukun, Gresik, 12 Desember 2011)
Sebenarnya mau nulis yang lain. Tapi, berhubung saya menemukan catatan lama saya dan belum terpublikasikan lewat blog, akhirnya, ini saja deh yang saya munculkan. Tit… Demikian pendahuluannya, silakan disimak, sedikit, semoga bermanfaat.
Wah, sudah lama tidak tulis-menulis di blog ini…
Berhubung sedang agak suntuk, dan karena pengalaman hari ini, saat ngoding (kembali) dengan Javascript, yang membuat agak… bhew… permasalahan simpel yang bikin rasanya bilang ‘MBENCEKNO’… Tapi, apapun itu, pasti ada hikmahnya, tambah ilmu pastinya, hehe…
Langsung aja dech…
Berikut sedikit perbedaan Javascript dengan beberapa bahasa pemrograman lain yang biasa saya pakai. Simpel saja, tentang perulangan (looping).
Jika biasanya ketika saya ingin melakukan perulangan (for loop) untuk mendapatkan item-item dalam sebuah array, saya akan menulisnya seperti kode berikut.
for (int i = 0; i < objects.size(); i++) {
// doing something I like
-> this is Java based code
}
Tapi, ternyata kalau diaplikasikan di Javascript kok tidak bisa ya… Usut punya usut, ternyata masalahnya hanya terletak pada int i (direct variable declaration) di dalam statement for. Ternyata!!! Di Javascript, variabel tidak didefinisikan terlebih dahulu pun tidak masalah, bahkan akan menimbulkan galat (error) seperti jenis kode perulangan di atas, atau mungkin dapat dideklarasikan sebelum blok perulangan, jika kasusnya seperti perulangan tersebut.
Akhirnya, kode tersebut saya translasikan menjadi baris kode berikut.
for (i = 0; i < objects.length; i++) {
// doing something I like
-> this is Javascript based code
}
Hehe.. cukup sekian yang dapat saya sampaikan (halah.. kayak pidato aja..)
Semoga dapat memberi sedikit wawasan..
Studi Kasus: Menambah Keyboard Language ‘Bahasa Arab’
Langsung aja step-by-step-nya:
Mungkin ini adalah cerita singkatku tentang bagaimana “aku” dulu bersusah payah untuk hanya sekedar memuaskan keingintahuanku tentang dunia internet, dan juga sebagai cerita nostalgia kehidupanku di masa silam. Bagaimanakah ceritanya? Baca sendiri saja deh… hehe…
Let’s start reading piece of my “life story”…
Studi kasus:
Backup file dari web hosting 000webhost.com
Langsung aja, step by step-nya:
Note:
Kurang jelas, comment please!
Ini adalah salah satu pertanyaan BESAR yang pernah terlintas di benakku. ADAKAH POLWAN YANG MENGENAKAN HIJAB (JILBAB) dalam kesehariannya saat bertugas, yach??
Mungkin ini dapat dikatakan sebagai hasil pengamatanku sehari-hari yang selalu berlalu-lalang melintas di jalan-jalan kota (Surabaya). Dari pengamatan itu, tidak pernah kutemukan seorang pun polisi (wanita) yang mengenakan jilbab. Dalam benakku, aku sempat bertanya-tanya, apakah ini (model seragam polisi wanita) yang harus dikenakan oleh para pemakainya walaupun secara agama dia muslim??? Tidak adakah sebuah kebijakan yang mampu menjaga ‘virginitas’ seorang polisi (muslimah), dimana jilbab (menutup aurat) begitu dijaga di dalam Islam? Terlebih secara sumber daya, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.
Coba kita lihat Norwegia, negara yang secara sumber daya mungkin memiliki lebih banyak penduduk non-muslim, tapi di kepolisiannya, setiap anggota (wanita) satuannya yang beragama Islam, diberikan sebuah pengkhususan dalam hal seragam, yakni menambahkan jilbab sebagai salah satu komponennya.
So, akankah Indonesia juga bisa dan mampu untuk melakukannya (kalau memang belum ada)? Apakah hal ini juga terkait dengan tingkat kemerosotan moral bangsa ya sudah semakin tinggi kadarnya??? Perlu diingat juga betapa kerasnya perjuangan para remaja muslimah kita di beberapa puluh tahun silam, yang sungguh sangat tragis mungkin, dimana mereka harus rela dikeluarkan dari sekolahnya hanya gara-gara masalah jilbab, menutup aurat, yang sejatinya adalah sebuah kewajiban bagi setiap pemeluk Islam.
Inikah Indonesia-ku???