My First Online experience

11 Jul 2009

Mungkin ini adalah cerita singkatku tentang bagaimana aku dulu bersusah payah untuk hanya sekedar memuaskan keingintahuanku tentang dunia internet, dan juga sebagai cerita nostalgia kehidupanku di masa silam. Bagaimanakah ceritanya? Baca sendiri saja deh… hehe…

Let’s start reading piece of my life story

Pengalaman pertamaku dengan dunia internet sebagai jaringan luas yang menghubungkan satu titik dengan titik lain, antara belahan dunia yang satu dengan belahan dunia yang lain, bermula saat aku berusia 14 tahun. Seingatku, waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 MTs (Madrasah Tsanawiyah). Cukup muda, bukan? :D Hehe… Soalnya aku dulu tidak merasakan yang namanya duduk di bangku TK (Taman Kanak-Kanak, red).

Oke deh… Lanjut…

Koneksi pertamaku dengan dunia internet bermula dari sebuah wartel dekat tempat tinggalku. Dari beberapa wartel yang ada, hanya wartel itu saja yang sempat menghubungkan aku dengan dunia maya. Dengan harga yang cukup mahal (mungkin) jika dibandingkan dengan tarif warnet-warnet saat ini, Rp 10.000,- / jam (hampir 4 kali lipat tarif warnet saat ini). Apalagi dengan kecepatan koneksi yang sangat luaambaatt… lemoottt…. Ya, mungkin bisa dimaklumi, karena saat itu, ketersediaan hardware (modem) mungkin masih sangat terbatas, baik harganya yang masih lumayan mahal, maupun transfer rate (kecepatan transfer data) dari modem itu sendiri yang masih rendah. Tapi, setidaknya hal tersebut telah membuatku begitu terpukau, dan membuatku selalu mencoba untuk mengeksplorasi dunia baru tersebut lebih jauh.

Malang sungguh malang, keterhubunganku dengan jejaring maya tersebut waktu itu mungkin bisa dibilang sangat-sangat singkat sekali, karena aku hanya sempat merasakannya satu atau dua kali saja. Fasilitas komersial tersebut hanya bertahan kurang lebih satu-dua bulan saja, dan akhirnya menghilang ditelan waktu. Bagaimana tidak, pihak wartel waktu itu mungkin menganggapnya tak terlalu memberikan value (income) yang cukup signifikan untuknya karena di sana hanya ada satu unit komputer saja, disamping mungkin pengetahuan teknologi masyarakat saat itu yang mungkin masih sangat minim, apalagi di daerah pedesaan seperti di tempat tinggalku.

Yah… mau bagaimana lagi… :-(

Setelah beranjak agak dewasa (naik ke jenjang MA [Madrasah Aliyah], red), saat itu, saat aku sudah berada di kelas 2, terjadi beberapa perubahan infrastruktur di sekolahku, dan salah satunya adalah penggantian perangkat di laboratorium komputernya, dimana yang dulunya hanya berupa komputer generasi 80486 atau yang lebih dikenal dengan komputer 486, kemudian diganti dengan komputer generasi yang agak berkelas (hehe… walaupun masih generasi Pentium II, MMX, dan sebangsanya). Dan yang lebih menggembirakan lagi, dengan penggantian perangkat tersebut, pihak sekolah juga berinisiatif untuk mulai mengenalkan dunia internet kepada para santrinya (duh, senangnya waktu itu :) meskipun koneksinya juga masih bisa dibilang putus-nyambung, dan lagi laboratorium itu adalah laboratorium komputer satu-satunya, jadi harus bagi-bagi dengan rekan-rekan lain, seperti anak-anak dari MTs, STM, dan SMEA). But it’s great

Lanjut… (pengenalan beberapa fasilitas yang berhubungan dengan internet)

Ceritanya nih, saat itu kami, para santri, mulai dikenalkan dengan yang namanya surat elektronik atau bahasa kerennya e-mail. Di sana kita mencoba untuk saling berkirim surat antarsantri (hehe… walaupun nunggu loading-nya juga ga karuan lamanya…, anyway… it’s so great). Pengenalan berikutnya… jreng..jreng…jreng… Kita cakap-cakap, yuk!, ajak si Bapak Guru. Hehe… Cakap-cakap yang ini nih, cakap-cakap jarak jauh alias internet based relay chat atau yang sekarang sering kita kenal dengan istilah chatting-an itu lho… Waktu itu, protokol yang dikenalkan baru IRC saja, dengan bantuan sebuah aplikasi chat client yang namanya mIRC. Kalau sekarang kan macam-macam tuh, ada yang pakai protokolnya Yahoo! (YM), Google (GoogleTalk), Microsoft (MSN), de el el.

Meski demikian, rasa puas dalam diriku masih belum bisa terpenuhi secara penuh. Ya, seperti yang kuceritakan di atas tadi, frekuensi kami untuk memasuki dunia maya tersebut tak cukup sering, disamping laboratorium yang dipakai bersama, juga memang penjadwalannya yang tak cukup sering (mungkin hanya sekitar 3 5 kali saja selama aku masih menjadi santri di sana), soalnya kan ndak mungkin kalau saat ada ekstra komputer hanya diisi dengan berinternet ria saja, lha terus belajar komputer and aplikasinya (Microsoft based Office Suites) sendiri kapan??? So, aku tetap mencoba untuk mencari-cari di mana sih tempat yang menyediakan jasa (layanan) untuk menghubungkanku dengan dunia internet itu?

Meanwhile…

Ketika aku telah menginjak kelas 3, saat itu masuklah seorang tentor komputer baru yang tempat tinggalnya berada di pusat kota (Gresik). Secara… karena beliau adalah lulusan Teknik Informatika di salah satu universitas dalam negeri, maka kusempatkan diriku untuk lebih dekat dengannya (hehe… aku dulu terapresiasi sekali dengan para lulusan Teknik Informatika yang cakap dalam memfungsikan komputernya).

Dan, tak sia-sia, kedekatanku itu bisa membuahkan hasil. Aku akhirnya mendapatkan informasi tempat warnet terdekat yang mungkin masih bisa kujangkau (walaupun juga memakan waktu kurang lebih jam untuk menuju ke sana, disamping juga ada yang berada di pusat kotanya sendiri, tapi itu memakan lebih banyak waktu lagi, 1 jam-an untuk menuju ke pusat kota kalau dari tempat tinggalku). Hehe… mungkin karena saking senangnya, sampai-sampai aku tak memastikan dengan benar akan kebenaran informasi itu. Akhirnya, setelah pulang sekolah, kusempatkan untuk pergi ke sana dengan salah satu temanku.

Apa yang terjadi di sana? Lanjut! (saat-saat terpenting niech, ceritanya…)

Sesampainya di sana, kita terheran-heran, kita cari-cari tempat itu. Dalam benakku, Mana yach? Kok ndak ketemu-ketemu sich?. Kutanya deh orang di sekitar situ, ternyata di sana memang tidak ada yang namanya warnet. Kalau wartel, banyak, Mas!, kata orang tersebut. Wah… sia-sia dong pencarian kita tadi… Tapi, aku tak berputus asa sampai di situ, aku berinisiatif untuk langsung menuju ke pusat kota (karena memang sejalan dari sana). Menuju tempat yang sudah pasti ada. So, berangkatlah kita ke pusat kota. Setelah sampai, kita tanya lagi kepada orang-orang di sana. Sip, akhirnya kita temukan juga, dan berselancarlah kita mengarungi samudera internet di sana (hehe… panjang banget yach cerita untuk sekedar menemukan warnet, susah-payah lagi, fiuh…). Tapi tidak apa-apa, apalagi pas pulang dari sana, kita bisa pulang berbarengan dengan seorang ukhti, salah satu temanku waktu SD dulu, yang bersekolah di pusat kota. Hehe… rasanya dag…dig…dug…ser… gimana gitu. Maklum, sudah lama tidak bertemu, apalagi di madrasah tempatku bersekolah, gedung santri untuk ikhwan dan akhwat, antara santri cowok dan santri ceweknya, dipisah, jadi kagak biasa kalau bertemu anak-anak lawan jenis. Whatever, lah :D Oh ya, informasi warnet terdekat yang kudapatkan sebelumnya, ternyata, setelah kutanyakan lagi, beliau dapatkan dari temannya. Jadi, bukan benar-benar tahu secara pasti. Yo wis lah…

Menuju akhir cerita

Lanjut? Monggo…!

Beberapa kali kusempatkan untuk mengunjungi warnet pusat kota itu dalam beberapa waktu yang berbeda. Salah satu alasanku ialah untuk mencari kelengkapan literatur pembuatan karya ilmiah, yang memang waktu itu menjadi sebuah kewajiban bagi anak-anak yang akan lulus dari Madrasah Aliyah. Hal itu kulakukan mengingat literatur yang menjadi bahan penelitian kelompokku tidak begitu banyak terdapat di perpustakaan madrasah. Dan, sangat membantu memang, beberapa tambahan literatur (utama) bisa kudapatkan di sana.

Are thoose enough? Kayaknya kurang… Tambah deh dengan yang berikut ini…

Hikmah…

Jika dibandingkan dengan saat ini, telah begitu banyak perbedaan yang terjadi. Sekarang, internet bukan lagi menjadi hal yang sulit untuk ditemukan. Telah banyak warnet-warnet berdirian di sekitar kita, termasuk di dekat tempat tinggalku, di sana, di sebuah kecamatan yang bernama Dukun dan bertempat di kabupaten Gresik. Berbagai macam kebutuhan informasi bisa kita dapatkan dengan mudahnya saat ini. Bahkan, sampai-sampai, para pelajar saat ini memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap internet. Baik hanya untuk sekedar menghilangkan rasa penat (dengan ber-chatting ria, atau menjadi member website-website yang mengatasnamakan social network alias jejaring sosial), atau memang untuk kebutuhannya di sekolah/madrasah yang memang mengharuskan mereka untuk turut-serta melek IT, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia semakin maju dengan bermunculannya generasi-generasi baru yang memiliki kemampuan dan talenta yang super dengan memanfaatkan daya fungsi sebuah jaringan luar biasa internet.

The end of story… (huhu…)

Pesan dariku untuk para pembaca: Manfaatkanlah internet sebaik-baiknya, gunakanlah untuk tujuan-tujuan baik sehingga akan menghasilkan output yang baik pula baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang/lingkungan di sekitar kita.

Demikian, dan semoga ada manfaatnya. :D

– THE END –


TAGS ulang tahun ke-11 detikcom


-

Author

Follow Me